Ekbis, UMKM  

Bupati Irwan Dorong Koperasi Merah Putih Jadi Penghubung Produksi Desa ke Pasar

Dok kominfo-sp

LUWU TIMUR — Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih di Luwu Timur diarahkan untuk mengambil peran lebih besar dalam membangun mata rantai ekonomi masyarakat, terutama dengan membuka akses pasar bagi produk UMKM dan komoditas unggulan desa.

Bupati Luwu Timur Irwan Bachri Syam menegaskan, koperasi tidak boleh tumbuh sebagai pesaing bagi pelaku usaha kecil. Sebaliknya, keberadaannya harus menjadi kekuatan yang mengonsolidasikan produksi masyarakat sekaligus memperluas jangkauan pemasaran.

Pesan tersebut disampaikan Irwan saat membuka Pekan Expo Koperasi dan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (K-UMKM) Tingkat Provinsi Sulawesi Selatan 2026 di Lapangan Iniaku, Desa Sorowako, Kecamatan Nuha, Selasa (6/10/2026).

Di hadapan pelaku koperasi, UMKM, dunia usaha dan peserta dari 23 kabupaten/kota di Sulawesi Selatan, Irwan memaparkan arah pengembangan koperasi di Luwu Timur yang ditempatkan sebagai bagian dari ekosistem ekonomi desa.

Menurutnya, koperasi akan memiliki nilai strategis ketika mampu menghubungkan potensi produksi masyarakat dengan kebutuhan pasar. Karena itu, pembangunan koperasi tidak cukup hanya diukur dari berdirinya bangunan atau tersedianya sarana operasional.

Di Luwu Timur, dari 128 desa dan kelurahan, sebanyak 77 bangunan fisik Koperasi Merah Putih telah rampung hingga 29 September 2026. Enam bangunan lainnya masih dalam tahap pembangunan.

Penguatan juga dilakukan dari sisi operasional. Sebanyak 68 koperasi telah menerima kendaraan operasional yang diarahkan untuk mendukung distribusi barang dan hasil bumi masyarakat, sedangkan 10 koperasi lainnya masih menunggu proses verifikasi tahap berikutnya.

“Alhamdulillah, Koperasi Merah Putih Luwu Timur masuk tiga besar terbanyak di Sulawesi Selatan,” ujar Irwan.

Selain Koperasi Merah Putih, Luwu Timur juga memiliki sembilan Koperasi Nelayan Merah Putih yang diarahkan memperkuat aktivitas ekonomi masyarakat pesisir dan sektor perikanan.

Namun, bagi Irwan, infrastruktur koperasi hanyalah bagian awal. Tantangan berikutnya adalah memastikan produksi masyarakat memiliki pasar yang jelas dan mampu memberikan nilai tambah bagi pelakunya.

Kerangka tersebut kemudian dihubungkan dengan Program PANDU JUARA (Pembangunan Desa Unggul, Maju dan Sejahtera), yang mendorong setiap desa mengembangkan komoditas sesuai dengan potensi masing-masing.

“Setiap desa harus mengenali kekuatan ekonominya sendiri. Ada desa yang unggul pada pertanian, perkebunan, perikanan, peternakan, pangan olahan maupun sektor lainnya,” jelasnya.

Untuk menopang pengembangan potensi tersebut, Pemkab Luwu Timur mengalokasikan bantuan keuangan khusus sebesar Rp2 miliar per desa. Program itu mulai diterapkan sejak tahun sebelumnya pada 33 desa sebagai sampel atau percontohan.

Irwan mengingatkan, peningkatan produksi tanpa kepastian pasar justru dapat menjadi persoalan baru bagi masyarakat. Karena itu, sejak awal pemerintah perlu memetakan calon pembeli, kebutuhan pasar, standar kualitas, biaya distribusi hingga potensi nilai tambah yang dapat dikembalikan kepada produsen.

“Pengembangan komoditas tidak cukup hanya dengan meningkatkan produksi. Kita harus mengetahui siapa pembelinya, berapa kebutuhan pasar, bagaimana standar kualitasnya, bagaimana biaya distribusinya, dan bagaimana nilai tambahnya dapat tetap dinikmati masyarakat,” katanya.

Dalam konstruksi tersebut, Koperasi Merah Putih diproyeksikan berperan sebagai agregator ekonomi desa. Koperasi dapat mengumpulkan produk masyarakat, mengonsolidasikan volume produksi, membantu menjaga kualitas dan kemasan, mengatur distribusi, sekaligus membuka akses pasar yang sulit dijangkau pelaku UMKM secara individual.

Dengan model itu, posisi koperasi dan UMKM tidak ditempatkan dalam relasi persaingan, melainkan saling menguatkan.

“UMKM tetap memproduksi dan berusaha, koperasi memperbesar pasar mereka. Koperasi tidak mengambil ruang ekonomi rakyat, tetapi memperluasnya,” tegas Irwan.

Ia menilai pola hubungan tersebut dapat menciptakan kepastian pasar bagi masyarakat sekaligus membangun basis transaksi yang sehat bagi koperasi.

“Dengan cara ini, masyarakat memperoleh kepastian pasar dan koperasi memiliki basis transaksi yang kuat,” tandasnya.

Pekan Expo K-UMKM Sulsel 2026 di Sorowako pun diharapkan menjadi ruang untuk menguji gagasan tersebut dalam praktik: mempertemukan pelaku usaha, koperasi, pemerintah dan pasar, sekaligus membuka jejaring kemitraan yang dapat membawa produk masyarakat Luwu Timur menembus pasar yang lebih luas.

(Rils/Kominfo-SP|diolah)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *