Luwu Timur, — Langkah besar menuju terwujudnya Sekolah Unggulan Berbasis Riset dan Konservasi di Kabupaten Luwu Timur semakin nyata.
Pada 1 November lalu, rombongan delegasi Universiti Sains Islam Malaysia (USIM) dan Universitas Muslim Indonesia (UMI) melakukan peninjauan langsung ke calon lokasi pembangunan sekolah unggulan di kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Malili, Kecamatan Malili.
Kunjungan tersebut turut dihadiri oleh Bupati Luwu Timur, H. Irwan Bachri Syam, didampingi sejumlah Kepala OPD, Kepala Kemenag Lutim, Kepala Desa Puncak Indah, pengelola KHDTK, serta perwakilan manajemen PT Vale Indonesia yang ikut mendukung program pendidikan berwawasan lingkungan ini.
Dari pihak USIM Malaysia, hadir Prof. Madya Dr. Asmaddy Hars, Prof. Madya Dr. Mohd Azmir Mohd Nizah, serta tim PACE (Pengarah USIM PACE).
Sementara dari UMI Makassar, hadir Ketua Pembina Yayasan Wakaf UMI, Prof. Mansyur Ramly, Ketua Pengurus Yayasan, Prof. Masrurah Mokhtar, dan Rektor UMI, Prof. Hambali Thalib.
Acara diawali dengan sambutan dari pihak pengelola KHDTK Malili yang mewakili Kepala Balai Penyuluhan dan Pengembangan SDM Wilayah VI.
Dalam paparannya, dijelaskan bahwa kawasan hutan KHDTK memiliki ekosistem yang masih sangat terjaga dengan keanekaragaman flora dan fauna endemik Sulawesi, termasuk spesies burung langka dan pohon khas daerah tropis.
Dalam arahannya, Bupati Irwan menegaskan bahwa kawasan KHDTK memiliki potensi besar untuk dijadikan lokasi sekolah unggulan berbasis konservasi dan riset.
“Pembangunan sekolah unggulan ini diharapkan menjadi pusat pendidikan berbasis riset dan konservasi, sekaligus menjadi model sinergi antara dunia pendidikan, pemerintah daerah, dan pelestarian lingkungan,” ungkap Irwan sembari menunjukkan peta wilayah KHDTK Malili.
Sebagai tindak lanjut, peninjauan akan dilanjutkan pada Ahad, 2 November 2025, di lokasi alternatif kedua, yakni kawasan Danau Matano — salah satu ikon wisata dan sumber ekologi penting di Kabupaten Luwu Timur.
Kegiatan ini menjadi momentum penting dalam memperkuat kolaborasi antara pemerintah daerah, lembaga pendidikan tinggi nasional dan internasional, serta pengelola kawasan konservasi.
Sinergi tersebut diharapkan mampu melahirkan pusat pendidikan unggulan di Bumi Batara Guru, yang tidak hanya mencetak generasi berprestasi, tetapi juga berkarakter dan peduli terhadap kelestarian alam. (NH exp/tim)












