LUWU TIMUR — Peringatan Hari Jadi Luwu (HJL) dan Hari Perlawanan Rakyat Luwu (HPRL) bukan sekadar penanda waktu yang diperingati setiap 23 Januari, tetapi menjadi momentum refleksi atas sejarah panjang perjuangan, jati diri, serta nilai-nilai luhur yang membentuk peradaban Tana Luwu.
Sebagai bentuk penghormatan terhadap sejarah, penguatan identitas budaya, serta komitmen menjaga persatuan daerah, Bupati Luwu Timur, Irwan Bachri Syam, bersama Wakil Bupati Puspawati Husler, Ketua TP PKK Luwu Timur Ani Nurabani Irwan, Penjabat Sekretaris Daerah Ramadhan Pirade, serta jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) menghadiri puncak peringatan HJL dan HPRL.
Kegiatan tersebut dirangkaikan dengan Anugerah Budaya Luwu Tahun 2026 yang digelar di halaman Istana Kedatuan Luwu, Kota Palopo, Jumat malam (23/01/2026).
Peringatan tahun ini mengusung tema “Singkerru Ininnawa Lipu Dimeng Ede”, yang menjadi falsafah Kedatuan Luwu dalam melaksanakan ritual adat secara sakral. Tema ini mengingatkan seluruh masyarakat Tana Luwu akan pentingnya merawat dan melestarikan nilai-nilai budaya serta sejarah leluhur di tengah arus modernisasi.
Gubernur Sulawesi Selatan yang diwakili Kepala Dinas Kebudayaan dan Kepariwisataan Provinsi Sulawesi Selatan, Muhammad Arafah, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih kepada seluruh masyarakat Luwu atas komitmen menjaga warisan budaya.
Menurutnya, peringatan HJL dan HPRL menjadi ruang memperkuat kebersamaan sekaligus mempererat silaturahmi dalam upaya membangun Luwu yang lebih maju dan sejahtera.
“Kolaborasi antara pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten/kota menjadi kunci. Dengan sinergi dan perencanaan pembangunan yang terintegrasi, manfaat pembangunan dapat dirasakan secara langsung oleh masyarakat,” ujar Arafah.
Sementara itu, Yang Mulia (YM) Datu Luwu ke-40, H. Andi Maradang Mackulau Opu To Bau, menyampaikan penghargaan kepada seluruh pihak yang hadir dan turut menyaksikan rangkaian peringatan tersebut.
“Inilah bukti kecintaan kita terhadap Tanah Luwu,” tuturnya.
YM Datu Luwu juga menekankan pentingnya menjaga harmonisasi dan solidaritas sosial melalui nilai-nilai luhur masyarakat Luwu, seperti sipakainge (saling mengingatkan), sipakatau dan sipakalebbi (saling menghargai), siri’ sebagai harga diri, serta alebireng atau kemuliaan sebagai tujuan hidup bersama.
“Nilai-nilai ini merupakan fondasi kepemimpinan yang harus terus dijaga dan diwariskan,” tegasnya.
Pada kesempatan yang sama, Bupati Luwu Timur, Irwan Bachri Syam, menegaskan bahwa peringatan HJL dan HPRL menjadi saksi bahwa peradaban Luwu dibangun di atas nilai-nilai luhur yang diwariskan secara turun-temurun.
“Meski hidup di era modern, kita tidak boleh tercerabut dari akar budaya. Kita adalah bangsa yang lahir dan tumbuh dari peradaban yang berlandaskan nilai-nilai kebudayaan,” ujar Bupati Irwan.
Ia menambahkan bahwa Tanah Luwu pada hakikatnya merupakan satu kesatuan historis dan kultural, meskipun secara administratif terbagi ke dalam beberapa wilayah pemerintahan. (Rls/Kominfo-SP)












