Desa Baruga Gelar Rembuk Stunting dan MMD, Dukung Komitmen Pemkab Luwu Timur Percepat Penurunan Stunting

Dok Nh-exp tim nasional

LUWU TIMUR – Komitmen Pemerintah Kabupaten Luwu Timur dalam mempercepat penurunan angka stunting terus diwujudkan hingga ke tingkat desa. Salah satu implementasinya terlihat melalui pelaksanaan Rembuk Stunting yang dirangkaikan dengan Musyawarah Masyarakat Desa (MMD) di Aula Kantor Desa Baruga, Kecamatan Malili, Jumat (3/7/2026).

Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya menyelaraskan program pembangunan desa dengan kebijakan Pemerintah Kabupaten Luwu Timur yang menempatkan percepatan penurunan stunting sebagai salah satu prioritas pembangunan sumber daya manusia.

Forum tersebut dihadiri unsur Puskesmas Malili, Badan Permusyawaratan Desa (BPD), pemerintah desa, pendamping desa, kader kesehatan, serta tokoh masyarakat. Seluruh peserta bersama-sama mengevaluasi kondisi kesehatan masyarakat berdasarkan data dan hasil survei lapangan yang telah dilakukan.

Dalam pemaparannya, Puskesmas Malili menyampaikan gambaran terkini mengenai kondisi kesehatan masyarakat, mulai dari jumlah balita yang mengalami stunting, kasus gizi kurang, ibu hamil dengan kondisi Kurang Energi Kronis (KEK), hingga persoalan sanitasi lingkungan, keberadaan jentik nyamuk, serta penyakit menular dan tidak menular yang memerlukan perhatian bersama.

Pembahasan tidak hanya berfokus pada identifikasi permasalahan, tetapi juga merumuskan langkah-langkah penanganan yang dapat dilakukan secara kolaboratif oleh pemerintah desa, tenaga kesehatan, kader, dan masyarakat.

Hasil pendataan dan rekomendasi yang dihasilkan dalam forum tersebut selanjutnya akan menjadi dasar penyusunan program prioritas pada Rencana Kerja Pemerintah (RKP) Desa Baruga Tahun 2027, khususnya di bidang kesehatan dan peningkatan kualitas gizi masyarakat.

Pelaksanaan rembuk stunting di tingkat desa ini menunjukkan bahwa upaya penurunan stunting di Kabupaten Luwu Timur tidak hanya menjadi kebijakan di tingkat kabupaten, tetapi juga diterjemahkan dalam aksi nyata hingga ke pelosok desa. Dengan pendekatan berbasis data, kolaborasi lintas sektor, dan partisipasi masyarakat, diharapkan berbagai intervensi yang dirancang mampu menekan angka stunting sekaligus meningkatkan kualitas kesehatan ibu dan anak secara berkelanjutan.

(Nh-exp/tim)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *