Teknologi Pengering Cengkeh dan Aplikasi Digital Hadir di Kanrung, Sinjai Perkuat Nilai Tambah Petani

Dok hms-kmf

SINJAI — Tantangan petani cengkeh dalam proses pascapanen mulai dijawab melalui penerapan teknologi pengering otomatis dan sistem pencatatan digital di Desa Kanrung, Kecamatan Sinjai Tengah. Inovasi yang dikembangkan mahasiswa Politeknik Negeri Ujung Pandang (PNUP) ini diharapkan membantu menjaga mutu hasil panen sekaligus memperkuat nilai jual komoditas unggulan Kabupaten Sinjai.

Dukungan teknologi tersebut ditandai dengan penyerahan unit Smart Clove-Dryer dan aplikasi Kanrung Digi-Clove kepada Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Kanrung, Kamis (8/10/2026). Penyerahan berlangsung di Aula Kantor Desa Kanrung, bertepatan dengan penutupan Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa).

Pemerintah Kabupaten Sinjai diwakili Staf Ahli Bidang Sosial dan Sumber Daya Manusia, H. Sofwan Sabirin. Dalam kesempatan itu, ia mengapresiasi civitas akademika PNUP, khususnya tim pelaksana dan relawan PPK Ormawa HIMATIK-PNUP, yang telah menghadirkan inovasi teknologi untuk menjawab kebutuhan masyarakat desa.

Menurut Sofwan, pengembangan teknologi pascapanen menjadi penting karena cengkeh merupakan salah satu komoditas perkebunan andalan Sinjai. Data Badan Pusat Statistik mencatat produksi cengkeh daerah ini mencapai 5.626 ton pada 2022 dan 5.241 ton pada 2023. Kecamatan Sinjai Tengah termasuk wilayah yang berkontribusi terhadap produksi komoditas tersebut.

Namun, potensi produksi yang besar perlu diimbangi penanganan pascapanen yang memadai. Selama ini, pengeringan cengkeh secara konvensional dengan menjemurnya di ruang terbuka, termasuk di atas aspal jalan, masih menghadapi kendala cuaca. Hujan yang datang tiba-tiba dapat menghambat proses pengeringan dan meningkatkan risiko tumbuhnya jamur, yang berpotensi memengaruhi mutu cengkeh serta kualitas minyak atsirinya.

“Atas nama Pemkab Sinjai, saya menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada segenap civitas akademika PNUP, khususnya Tim Pelaksana dan Volunteer PPK Ormawa HIMATIK-PNUP, yang telah mendedikasikan waktu, tenaga, dan pemikiran untuk membangun Desa Kanrung melalui program ini,” ujar Sofwan.

Pengeringan lebih singkat, mutu lebih terjaga

Unit Smart Clove-Dryer dirancang menggunakan sensor berbasis Internet of Things (IoT) untuk membantu mengendalikan proses pengeringan secara otomatis. Teknologi ini memungkinkan pengeringan dilakukan dalam kondisi suhu yang lebih terkontrol, yakni sekitar 40–50 derajat Celsius.

Dengan sistem tersebut, waktu pengeringan yang sebelumnya dapat mencapai tiga hingga lima hari ditargetkan menjadi sekitar 18–24 jam. Durasi yang lebih singkat diharapkan membantu petani mengurangi ketergantungan pada cuaca, menekan risiko kerusakan hasil panen, serta mengurangi pekerjaan fisik dalam aktivitas penjemuran.

Bagi petani, kualitas pascapanen memiliki arti penting karena berpengaruh terhadap penerimaan pasar dan nilai jual produk. Karena itu, penggunaan teknologi pengering tidak hanya berkaitan dengan efisiensi waktu, tetapi juga menjadi upaya memperbaiki penanganan hasil perkebunan sejak awal sebelum dipasarkan.

“Dengan demikian, kehadiran Unit Smart Clove-Dryer yang hari ini kita serahkan kepada BUMDes Desa Kanrung merupakan jawaban konkret atas persoalan tersebut,” jelas Sofwan.

Dari kebun hingga pasar, cengkeh mulai terdigitalisasi

Inovasi ini dilengkapi aplikasi Kanrung Digi-Clove, yang dirancang untuk membantu petani mencatat hasil panen dan mendukung sistem traceability atau ketertelusuran produk.

Melalui pencatatan digital, informasi mengenai asal-usul dan kualitas cengkeh diharapkan dapat dikelola lebih teratur, sehingga proses pengelolaan komoditas memiliki dokumentasi yang lebih baik dari kebun hingga pasar.

Integrasi antara mesin pengering dan aplikasi digital tersebut menjadi pendekatan yang menghubungkan dua kebutuhan petani sekaligus: menjaga mutu hasil panen dan memperkuat informasi produk. Jika dikelola secara konsisten, sistem ini berpotensi membantu BUMDes membangun layanan pascapanen yang lebih terorganisasi bagi petani setempat.

Pemkab Sinjai berharap kedua inovasi tersebut tidak berhenti pada seremoni penyerahan. Pengelolaan, pemeliharaan peralatan, pemanfaatan aplikasi, serta keberlanjutan layanan bagi petani menjadi faktor penting agar manfaat teknologi dapat dirasakan dalam jangka panjang.

Sofwan menegaskan, inovasi yang dibangun melalui kolaborasi perguruan tinggi dan masyarakat harus berujung pada manfaat nyata bagi desa, terutama dalam meningkatkan produktivitas, kualitas hasil pertanian dan kesejahteraan petani.

Dengan penyerahan Smart Clove-Dryer dan Kanrung Digi-Clove, Desa Kanrung memperoleh peluang untuk mengembangkan pengelolaan pascapanen cengkeh yang lebih modern. Tantangan berikutnya adalah memastikan teknologi tersebut dimanfaatkan secara berkelanjutan sehingga mampu memberikan nilai tambah bagi petani dan memperkuat ekonomi desa.

(Hms-KMF|AM)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *