Sinjai dan Simbol yang Tak Bermakna

  • Bagikan
Kasrum Hardin Mahasiswa Asal Tellulimpoe Jurusan Hukum Tatanegara UIN Alauddin Makassar

OPINI, EXPOSETIMUR.com — Aku ingin mengawali sebuah catatan sederhana dan lucu ini dari sebuah berita yang beredar terkait simbol Kabupaten Sinjai dijadikan lelucon, keseriusan atau hanya Candaan. Entahlah yang pasti simbol kebanggaan atau setidaknya ciri Sinjai telah di edit oleh seseorang disalah satu grub facebook bernama ‘Bulukumba Bar bar’ dan tentu itu mewakili person saya yakin itu tidak mewakili keluarga, kelompok apatalagi daerah sekalipun nama grub tersebut atas nama kedaerahan.

Tentu simbol bukan lah sesuatu yang maknawi apatalagi hanya gambar namun sederhananya simbol mewakili makna disana kita akan tercelup secara ontologis bahwa simbol bernomenakan subtansial (Dasar filosofis) Jika kita merujuk pada sebuah teori gambar (the picture theory) yang diperkenalkan Wittgenstein serta diulas dengan lugas oleh Dr. Muhammad Sabri Ar. dalam bukunya yang berjudul ”Mengurai Kesenyapan Bahasa Mistik”, menunjukkan adanya hubungan yang sangat erat antara bahasa dan realitas.

Gambar menjadi penanda dari realitas ia memiliki kaitan erat sehingga gambar sebagai penampakan akan sedikit banyaknya menyampaikan simbol. Terlepas dari oknum yang telah mengedit nama Sinjai menjadi ‘Sianjai’ dan gambar patung kuda kebanggaan Sinjai yang diubah menjadi Patung kuda melakukan ‘perkawinan’. Tentu ada pandangan ketika melihat tersebut terlepas dari niat seseorang tersebut.

Pertama secara Rasionalitas maka konsepsi yang telah diubah dari realitasnya akan melahirkan pandangan penafsiran beragam mungkin salah satunya bahwa Simbol sinjai bukan lah hal penting sebab tak sesuai realitanya sehingga kita tak perlu menjadikannya soal sebab ia mengedit dan mempublisnya tak menafsirkan apa makna dari gambar tersebut kedua kemungkinan Ia tidak memahami simbol tersebut memiliki makna kebudayaan secara kultural yang hidup dan berkembang pada masyarakat Sinjai yang pada dasar kita sendiri tidak pernah menjadikan nya falsafah hidup baik di pemerintahan ataupun kehidupan bermasyarakat kita hingga pada aplikatif kehidupan keluarga. Sehingga dengan adanya editan tersebut tidak merugikan ataupun menguragi nilai dari sebuah prosesi Kehidupan masyarakat Sinjai baik sebagian ataupun seluruh nya, misal.

Pandangan Empiris, bahwa Simbol yang telah di Ubah dalam bentuk gambar tersebut tidak sesuai realitasnya sehingga imajinasi akan meluas hingga Menafsir gambar tersebut sebagai perwakilan fenomena masyarakat Sinjai apatalagi dengan patung kuda adalah bagian dari perjuangan keluhuran masyarakat Sinjai dulu, bukan hal elok jika Kuda dengan gambar tak senonoh dalam pandangan subjektifiti penulis mewakili kehidupan masyarakat Sinjai yang juga dijuluki sebagai ‘Bumi Panrita Kitta’ sebuah slogan kecerdasan masyarakat nya mengedepankan sikap etis dan intelektual tentu itu tak sesuai

Namun tak lupuk apatalgi Lupa bahwa penegasan UUD sebagai Hierarki Kehidupan berbangsa Republik telah menyatakan bahwa Indonesia ini adalah negara Hukum dengan tiga lembaga sebagai pelaksana dari berjalannya negara hukum tersebut Legislatif, Yudikatif dan Eksekutif.

Penulis sedikit menyarankan bagi mereka yang merasa ‘paling’ Sinjai dan Melihat kehidupan sebagai fenomena kemanusiaan bahwa paling penting adalah subtasianya hidup manusia. Apapun daerahnya dan apapun keturunannya.

Adapun perilaku yang telah mengubah simbol dengan cara visual itu dijadikan sebagai sebuah koreksi atas kehidupan kita sebagai masyarakat Sinjai sudah sesuai kah kehidupan masyarakat Sinjai ?. Atau sesuai dengan gambar yang telah diubah tersebut. Mari kita jawab sendiri dan menilainya sendiri sebab yang paling tau tentang diri seseorang hanya dirinya. Teringat dalam buku kumpulan Opini berjudul ‘Kepada Jauh yang Dekat’ yang ditulis oleh Arifuddin Balla. “Bahwa hidup adalah Upaya mengajuhkan pertanyaan pertanyaan kepada diri sendiri”.

Bagaimana dengan “SINJAI BERSATU” dan Makna Patung Kuda?

mengutip salah satu essai ‘Sinjai, Kuda, dan Nilai-Nilai yang Hilang’ tulisan Arifuddin Balla dalam bukunya “Kepada Jauh yang Dekat”. DUA ekor patung kuda saling berhadapan dengan kedua kaki depan diangkat ke udara. Masing-masing di belakangnya ada seekor kuda lebih kecil berwarna putih, masing-masing kaki kiri agak terangkat dan ekornya dikibaskan ke udara pula. Kedua buah patung ini di bangun di atas sebuah gerbang. Dibangun tepat mengangkangi jalan poros menuju kota. Di kedua sisi gerbang ini tertulis “SINJAI BERSATU: , moto kabupaten ini.

Sampai saat ini, patung-patung kuda ini masih berdiri perkasa pada tempat yang sama, meski tentu hujan telah berulang kali mengguyur saat musim hujan dan panas menyengat tubuhnya ketika musim kemarau.

Baca Juga :   Kurangnya Motivasi Belajar Peserta Didik Dalam Dunia Pendidikan

Bagi masyarakat sinjai, kuda bukan sekedar patung penanda batas kot, sejak zaman dahulu, kuda sangat penting bagi aktivitas warga. Kuda dijadikan transoportasi untuk mengikuti hasil perkebunan. Sebagai kendaraan hingga kendaraan istimewa raja raja terdahulu.

Maka tidak heran jika gambar kepala kuda sampai leher berwarna putoh menjadi salah satu simbol penting kabupaten sinjai. Kuda digambarkan lambang keuletan dan sikap kerja keras. Warna putih adalah penegasan jika dalam keperkasaan layaknya kuda, pikiran jernih dan itikad baik harus selalu dikedepankan.

Pun, tulisan “sinjai bersatu” memiliki arti mendalam yang tidak terlalu sulit di pahami. Bersatu adalah harapan agar tetap teguh menjalin persatuan dan kebersamaan dalam menerima berbedaan perbedaan yang ada.

Jauh sebelum republik ini merdeka, praktik persatuan ini telah di tujukkan kerjaan-kerjaan kecil yang tergabung, baik dalam federasi tellu limpoe maupun pitu limpoe. Hubungan baik ini di landasi prinsip sipakatau, yaitu saling menghormati dengan menjunjung tinggi nilai nilai konsep “sirui menre’ tessirui NO’ yang dimaknai saling menarik ke atas, pantang saling menarik kebawah serta serta “malillu sipakainge” yang berarti saling mengingatkan dan menasehati jika keliru*. Begitu sekiranya tafsiran Arief Balla mengenai makna Sinjai, betulkah itu telah mewakili kehidupan masyarakat Sinjai sekarang. Lanjutan dari Paragraf tersebut menyebutkan sebuah Organisasi sebut saja HIPPMAS (Himpunan Pelajar, Pemuda dan Mahasiswa Sinjai) yang terdengar indah dan intelek sebuah wadah generasi Sinjai kedepan hingga kini mempertontonkan nafsu untuk menjadi Ketua hingga keributan dan kekacauan terjadi yang akhirnya bisa ditebak, dualisme kepengurusan entah siapa yang sah yang pasti. Demi kekuasan dan beragam kepentingan, maka sikap sipakatau, “sirui menre’ tessirui no”, “mallilu sipakainge”, tinggal sekedar kata kata yang tak lagi bermakna bagi kehidupan.

Apakah kita wajib marah ketika ada orang mengedit gambar simbol Sinjai sementara kita tidak pernah marah pada diri sendiri jika telah mencaci maki makna dari Sinjai itu sendiri?.

Namun sebuah catatan penting pula jika negara ini adalah hukum tentu ini adalah sebuah ujian sekaligus kejelian para penegak hukum untuk melihat fenomena tersebut yang belakangan ini jadi hangat menjadi perbincangan di sosial media sekalipun hangatnya hanya di sosial media namun setidaknya masyarakat Sinjai masih punya kepedulian yang bagiku itu bagian sedikit jika tak dibarengi dengan orentasi atas perilaku.

Equality before the law. Sebuah adegium hukum bahwa semua orang sama dihadapan hukum apapun dan siapapun itu dan mudah mudahan setiap orang juga sama dihadapan penegak hukum jika telah diatur secara yuridis maka tak ada alasan untuk tuan dan nyonya penegak hukum untuk bertidak yang tentu sesuai amanah Undang-Undang yang berlaku di Republik.

Terakhir saya ingin menyampaikan kepada siapapun yang membaca atau mungkin engkau sedikit marah ataukah engkau oknum mengedit itu baik mungkin disengaja maupun tidak disengaja.

Bahwa “Jangan salahkan masa lalu sebab disana kita pernah hidup juga jangan salahkan masa kini sebab itulah kita MENJADI. Termasuk apa yang sedang Viral beberapa hari ini.

Yang perlu kita pikirkan adalah bagaimana cita, cinta dan cipta itu hadir sebagai sosok Hikmah atas apa yang pernah kita lalui dan sedang kita jalani serta yang akan kita hadapi. Kehidupan ini hanya tentang siapa yang berbuat apa untuk Kebaikan.

Ada banyak manusia yang buruk salah satunya mungkin diantara kita semua, yang meratap pada nasib dan rezeki yang bertabur di muka sentora dunia. Namun semua bukan soal juga bukan pula jawaban.

Yang menjadi Soal juga sekaligus jawaban adalah Cara dan ciri kita berbuat apa apa yang termaktub baik bagi siapapun dan dimanapun tanpa tapi.

Percayalah perjalanan akan menemui banyak duri sekaligus kelopak mawar yang indah, tapi semua itu bermakna jika dipersembahkan untuk hari esok untuk mereka yang Hidup dibawa mentari.

Semua kita pernah BERBUAT buruk juga BERBUAT baik itu semua menjadikan kita semakin tahu BAHWA HARI ESOK KITA INGIN MEMPERSEMBAHKAN APA”.

Sekian semoga masyarakat Sinjai termasuk saya menjadikan hal sebagai sapaan Kultur sekaligus kecintaan kita terhadap makna akan simbol Sinjai untuk tetap tahu Makna berikut kemenjadiannya di Bumi Panrita kitta.

Penulis : Kasrum Hardin
Mahasiswa Asal Tellulimpoe Jurusan Hukum Tatanegara UIN Alauddin Makassar

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *