Serikat Pekerja Balambessie Dinilai Bermasalah

  • Bagikan

EXPOSETIMUR.COM, BULUKUMBA – Serikat Buruh Balambessie dinilai cacat menjalankan kerja-kerja organisasi. Majunya Serikat Pekerja di lihat dari peran aktif buruh dalam berserikat, sejauh mana peran serta buruh dalam berlembaga, selama ini Serikat Pekerja (SP) Balombessie di nilai kurang profesional dalam melakukan kerja-kerja organisasi.

Pasalnya, kepengurusan yang berjalan tidak memiliki arah yang jelas, setumpuk permasalahan yang belum bisa tersentuh, sehingga kredibiltas Serikat Pelerja di pertanyakan.

Menurut Ewin Agustiawan yang juga sebagai pemerhati buruh dan tani menuturkan, serikat pekerja yang ada di Balambessie tidak paham pada konstitusi dasar kelembagaan, ada banyak kesalahan yang selama ini terjadi, sejak tahun 2010 hingga tahun 2020 kepengurusan di nilai tidak sesuai dengan kaidah organisasi yang berlaku.

“Sebut saja Musnik atau Musyawarah Unit Kerja, mereka sama sekali tidak mengerti cara pelaksanaanya, bahkan sejak berdirinya serikat pekerja belum perna sama sekali di selenggarakan Musnik,” katanya saat di konfirmasi exposetimur.com, melalui WhatsApp Minggu (19/4/2020).

Lebih lanjut ia menuturkan, Musnik adalah kegiatan wajib bagi setiap serikat pekerja, perhalatan sakral dalam setiap periode kepengurusan Serikat Pekerja, kerena dengan Musnik Anggaran Dasar dan RumahTangga atau AD RT dan peraturan organisasi atau PO di ulas dalam forum sidang musyawarah.

Tak Hanya itu, ia menilai kepengurusan tidak bisa berjalan jika organisasi tanpa mendahulukan yang namanya Musnik, pemahaman pengurus dalam kelembagaan akan kabur jika Musnik tidak dilaksanakan, yang ada adalah peraturan suka-suka tanpa dasar.

Dirinya pun menyinggung masalah SK PUK di Balambessie, menurutnya, terdapat banyak kesalahan, SK tersebut dinilai tidak sesuai dengan SK Serikat Pekerja pada umumnya, ia menyarankan ke pengurus agar dalam waktu dekat segera membentuk panitia pelaksana Muslub atau Musyawarah Luarbiasa unit kerja , sehingga permasalahan dalam internal SP tidak berlarut-larut.

“Penyelesaian masalah di Serikat Pekerja harus di selesaikan dalam Musyawarah luar biasa, dan itu harus di laksanakan secepatnya, kalau tidak akan menjadi lebih parah lagi, apalagi ketua buruh juga sudah status demisioner,” ujar Ewin.

Disamping itu, ia juga menyayangkan sikap ketua buruh yang tidak perna mengadakan Rakernik atau Rapat Unit Kerja , sehingga program-program kerja SP tidak jelas, dalam setiap kegiatan kelembagaan mesti sasuai dengan agenda proker yang telah di tetapkan.

Baca Juga :   Didampingi OPD Terkait, Gubernur Sultra Bersama Walikota Kendari Tinjau Jalan Rusak

“Saya menilai, serikat pekerja tidak ada marwahnya di mata pekerja lebih-lebih di mata pengusaha, karena kelemahannya sudah terbaca sejak awal, apalagi kedepan kita di perhadapkan dengan omnibus law,” katanya menambahkan.

Dirinya mengkawatirkan, kondisi kedepan Serikat Buruh akan banyak menghadapi setumpuk permasalahan, apalagi menghadapi omnibus RUU Cipta Kerja yang mana sebelumnya bernama Cipta Lapangan Kerja alias Cilaka. Pada RUU tersebut, diketahui banyak hak-hak buruh yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan sebahagian pasal ada yang di kurangi bahkan dihapus.

“Ini jelas semakin berat, apalagi Kondisi SP yang tidak karuan seperti di Balombessie, bagaiana mereka menghadapi permasalahan seperti itu, jika berlembaga saja masih keliru” tambahnya

Hal senada juga di sampaikan oleh Sukur aktivis buruh Bulukumba menurutnya, kesalahan dalam serikat pekerja terjadi adanya dominasi kepentingan yang mana mengabaikan hak-hak pekerja, yang seharusnya kepentingan pekerja yang harus di utamakan.

Dirinya berpandangan, sejatinya Serikat Buruh adalah tempat dimana para buruh dapat berhimpun dalam memperjuangkan hak-haknya, namun yang terjadi selama ini adalah pengurus tidak mau membuka ruang untuk mau belajar.

“Memang rata-rata pengurus masih awam dalam berlembaga, sampai peraturan di buat tanpa dasar,” jelasnya.

Dirinyapun berharap kepada Pengurus untuk fokus pembenahan lembaga, karena dengan itu, Serikat Pekerja lebih bermartabat. sehingga memiliki kanter yang kuat dalam diplomasi.

“Yang paling utama adalah pembenahan kelembagaan, fokus kesitu dulu, rekontruksi kepengurusan itu sudah jelas, jika perlu libatkan orang-orang yang berkompoten dalam merancang kelembagaan serikat pekerja, bila perlu kita undang demi perbaikan serikat pekerja, dari pada tidak ada yang mengajari” ujar Sukur lewat telepon.

Hingga saat ini, ketua buruh Balambessie belum bisa di hubungi untuk memberikan tanggapannya.

(Dika)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: