Membaca Ali Sya’riati: Kita Perlu Berbicara

  • Bagikan
Sulatin

OPINI, http://exposetimur.com Ada dua tokoh yang saya tahu dibalik pecahnya revolusi Iran, yaitu; Ayatullah Khomeini dan Ali Syari’ati. Namun, kali ini saya hanya membahas tokoh Ali Syari’ati dengan merujuk pada salah satu bukunya yang berjudul “Paradigma Kaum Tertindas; Sebuah Kajian Sosiologi Islam”. Gagasan-gagasan besar Ali Syari’ati seputar tentang perjuangan islam melawan segala bentuk tirani patut kita renungkan akhir-akhir ini, tentunya dalam konteks keindonesiaan dan kedaerahan.

Diantara gagasan besar yang dikemukan oleh Ali Syari’ati adalah tentang pentingnya berbicara yang berbasis keilmuan sebelum bertindak, melakukan aksi. Seperti yang tertulis didalam buku Paradigma Kaum Tertindas;

“yang kita lakukan selama ini hanya mengeluh dan meratap, dan saya sependapat kalau kita harus membahas penderitaan kita, tetapi juga secara ‘ilmiah’. Ajaran yang kita yakini haruslah menjadi landasan kerja, kegiatan dan pemikiran kita”. (Hal.35)

Inilah yang menjadi pijakan kita dalam bertindak atau melakukan aksi perlawanan terhadap tirani. Kita mesti berbicara berbasis ilmiah terhadap seabrek penderitaan yang diratapi. Ilmiah dalam pengetian ini bukan ilmiah dalam perspektif barat yang hanya memuja empirisme dan materialism. Berbicara berbasis ilmiah dalam perspektif Ali Syari’ati harus bersumbu pada doktrin agama, iman dan ideologi.

Haruslah didasari pada islam. Ini sejalan dengan apa yang menjadi pendakuan Dahlan Ranuwiharjo dalam bukunya Menuju Pejuang Paripurna bahwa syarat utama sebuah perjuangan ideologis adalah memiliki iman yang teguh dan ilmu yang memadai.

Sedangkan, anjuran berbicara soal penderitaan dengan basis ilmiah sejalan dengan apa yang diusul oleh Tan Malaka melalui masterpiecenya Madilog bahwa kita perlu memiliki cara pikir ilmiah berbasis data-data dan fakta untuk mengusung revolusi.

Untuk menopang aktivitas berbicara tersebut kita butuh banyak referensi, buku-buku tentang sejarah bangsa dan sejarah tentang tokoh yang telibat aktif dalam setiap fase perjuangan dan revolusi. Masih banyak buku-buku yang menjadi acuan dalam setiap pembicaraan kita adalah literature asing yang pada hakekatnya berbeda secara sosio-historis dengan masyarakat kita. Ali Syari’ati mengkritik;

Baca Juga :   Upaya Menghadang Dominasi Cina Di Dunia

“kesemuanya adalah terjemahan; Kita sendiri belum pernah menulis”. (Hal. 35)

Berkaitan dengan kecenderungan kita mengagungkan literature asing, ada kritik pedas yang dilontarkan oleh Bung Karno bahwa ada tiga kaum yang merusak bangsa ini kedepan, salah satunya adalah Kaum Belandis, yaitu kaum yang lebih suka membaca literature asing ketimbang literature bangsanya sendiri.

Dalam kajian poskolonial, memang keberadaan literature asing dalam sejarah dan masyarakat kita erat kaitannya dengan agenda imperialism dan kolonialisme dari bangsa kolonial.

Edwar W Said dalam Orientalisme membenarkan asumsi seperti itu ternyata bangsa Barat/Eropa selalu merasa paling unggul dan beradab secara rasial, budaya dan adat istiadat daripada bangsa timur atau Negara-negara dunia ketiga. Sehingga mereka sangat berhasrat menaklukan dan memberadabkan timur dan lainnya.

Melihat kompleksitas persoalan pentingnya berbicara sebelum bertindak dalam konteks perjuangan, maka dipandang perlu kita memulai agenda intelektual yang independen dan progresif. Kita perlu berdebat untuk saling berbantah-bantahan secara keilmuan dan etika intelektual sebelum kita terjun kedalam medan perjuangan sebagai aktualisasi.

Sebagai kesimpulan sumir dari pembacaan sederhana dari saya soal anjuran berbicara sebelum bertindak ala Ali Syari’ati adalah sebagai berikut; kita perlu ilmu holistic dan integral dalam mendiskusikan perderitaan hidup, mengedepankan literature bangsa sendiri dan berkiblat pada spirit dan taktik perjuangan para tokoh militant bangsa sendiri, perlu instrument epistemologis yang mampu mendeteksi relasi kekuasaan imperialism dengan produksi pengetahuan dari bangsa Barat/Eropa.

 

Penulis : Sulatin

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: