Sindrom Cinta Pada Pandangan Pertama

  • Bagikan
Penulis :Nurhidayahtunnisa Siswa SMA NEGERI 9 SINJAI

OPINI, EXPOSETIMUR.COM _ Banyak orang berpikir pasti lebih menyenangkan bila dicintai daripada mencintai, padahal tentu saja yang paling membahagiakan adalah mencintai dan dicintai, tetapi kadang dua hal tersebut tidak datang bersamaan. Pasti ada satu pihak terlebih dahulu yang muncul, seperti saat orang jatuh cinta pada pandangan pertama, tentunya kedua orang tersebut merasa mencintai karena disini tidak ada pihak yang dicintai, terkecuali bila sudah terjadi interaksi antar keduanya baru akan terlihat pihak mana yang lebih mencintai dan mana yang merasa dicintai. Mungkin anggapanku tidak selalu benar, karena memang aku hanya menurut pada pendapat dan egoku sendiri. Pendapat bagaimana sakitnya mencintai dan merananya dicintai menurut apa yang kurasakan.

Seorang wanita tentunya saat ingin berada pada posisi dicintai, karena tentu hal itu membuat kami merasa issstimewaa. Meskipun begitu pasti ada syarat untuk kami merasa bangga bila dicintai, syaratnya tentu saja lelaki yang mencintai kami adalah lelaki yang memang kami idamkan. Sedangkan untuk urusan cinta, kita tidak dapat melarang seseorang untuk menyukai kita dan saat dicintai bisa saja dilakukan oleh orang yang tidak kita sukai bahkan tidak diharapkan sama sekali (nah lho..?) kalau sudah seperti itu tentu yang akan terjadi adalah respon negatif yang muncul. Tetapi banyak juga kejadian yang akhirnya membuat wanita mencintai lelaki ini, tentunya dengan latar belakang yang berbeda dalam mengambil keputusan khilaf tersebut, heee…

Sedangkan untuk mencintai, sebenarnya kalau mau jujur, pasti akan ada lebih banyak wanita yang berada di posisi ini. Kebanyakan yang terjadi adalah mencintai dalam diam dan memilih menjadi “secret admire” sambil memberi sinyal-sinyal agar lelaki tersebut merespon cintanya. Mencintai adalah keadaan dimana kita bisa menuruti keinginan hati kita dalam menentukan pasangan, tidak ada paksaan dari hati, tidak ada beban yang dirasakan justru yang ada hanya rasa bahagia dan sakit dalam waktu yang bersamaan. Tapi kenapa justru kami banyak wanita lebih memilih ini? Mungkin karena disini hati kita merasa ikhlas sehingga dapat menimbulkan rasa bahagia walaupun sebenarnya itu semu, sedangkan dicintai belum tentu hati ini merasa nyaman mendapat perhatian dari orang yang sebenarnya tidak kita harapkan, mungkin yang ada hanya perasaan jengkel karena merasa terganggu (beda kasus kalau itu lelaki idaman, ngarep,hee..). Mungkin untuk kebanyakan wanita, saat dicintai pasti tidak akan pernah mengalami perasaan terluka. Tetapi entah kenapa justru saat mencintai kita bisa dengan teganya menyakiti hati kita sendiri dengan menanti kehadiran seseorang yang mungkin saja tidak menyadari kehadiran kita atau bahkan saat tahu cinta kita bertepuk sebelah tangan (atau mungkin itukah yang menjadi tantangannya?)

Tidak dipungkiri lagi wanita adalah makhluk yang paling sabar di muka bumi ini, mungkin banyak wanita di dunia ini yang sudah tahu lelaki itu tidak meresponnya tetapi entah kenapa tetap saja sabar menunggu sampai kelak dia mencintainya. Begitupun juga saat kita sudah menjalin hubungan percintaan, sudah tahu sifatnya seperti itu, tetapi kita juga tetap sabar dan berharap mungkin saja suatu saat nanti dia akan berubah. Well, aku tidak akan menghakimi wanita yang mempunyai pemikiran seperti itu, karena aku pun juga mengalaminya. Lohh…

Pengalamanku selama ini entah kenapa aku selalu menjadi pihak yang mencintai terlebih dahulu. Mungkin bisa dibilang aku selalu mengalami “sindrom cinta pada pandangan pertama”. Saat itu aku merasa respon yang ku terima datar-datar saja tetapi entah kenapa aku selalu ikhlas dan menikmati keadaan itu, sampai suatu saat penantianku terjawab karena ternyata dia pun membalas cintaku. Seperti ada rasa kepuasaan dalam hati ini karena akhirnya aku bisa menakhlukannya, pikiran seperti itu wanita pun juga bisa melakukannya bukan hanya lelaki saja. Tapi tentu saja bukan dasar itu yang melandasi keinginan ku untuk mencintai, tetapi memang murni dari hatiku untuk tulus mencintai dan merasakan kebahagiaan karena dapat bersama dengan orang yang kuharapkan, walaupun dalam perjalanannya hubungan yang ada ternyata tidak sesuai harapan. Dan entah kenapa hal seperti itu selalu terulang kembali.

Baca Juga :   Akuntan Publik Milenial di Era Industri 4.0

Lalu sebenarnya apa yang menjadikan pertimbanganku lebih memilih mencintai padahal berkali-kali patah hati?
Pernahkah kamu merasa sakitnya ditinggalkan oleh orang yang mencintaimu? rasa sakit ditinggalkan, dilupakan, dikhianati atau apapun bentuknya. Pasti hal itu akan terasa lebih menyakitkan bila dibandingkan bila kita ditinggalkan oleh orang yang kita cintai. Mungkin untuk kebanyakan orang pendapatku aneh, kadang orang beranggapan apabila kita dicintai tentu kita tidak akan merasakan rasa sakit karena kita hanya menerima cinta jadi saat orang tersebut pergi kita akan baik-baik saja.

Pernahkah kalian mengalami rasanya dicintai yang akhirnya berbalik menjadi rasa mencintai sepenuh hati ?
Aku pernah mengalaminya, dicintai oleh seseorang yang sama sekali tidak aku cintai bahkan tidak menganggapnya sama sekali karena dia tidak masuk dalam kriteria lelaki idamanku. Tetapi dengan kesabarannya dan perhatian yang tak pernah putus akhirnya membuatku luluh juga. Aku yang sebelumnya tidak ada perasaan apapun menjadi berbalik amat sangat mencintainya, bahkan mungkin rasa cintaku kepadanya jauh lebih besar daripada saat aku berada di posisi mencintai. Hingga pada akhirnya hubungan harus berakhir dan dia menghilang, yang tersisa hanya rasa sakit yang teramat dalam. Rasa sakit yang tidak pernah aku rasakan saat aku berpisah dengan lelaki pada posisi aku mencintai, tetapi ini sangat berbeda saat aku berbeda pada posisi dicintai. Perasaanku terasa hancur berkeping-keping karena hati yang susah payah ku bangun untuk membuka, menerima dan memaksa kehadirannya harus berakhir begitu saja. Entah kenapa semua terasa berbeda sakitnya dengan saat aku mencintai, perasaan sakitnya begitu cepat berlalu seperti debu yang tertiup angin sedangkan hingga saat ini luka hati dicintai ini belum pernah bisa hilang dari diriku. Mungkin saat mencintai, kita sudah meng-adaptasi hati ini dan memikirkan segala kemungkinan terburuk yang ada tetapi mencintai karena dicintai adalah perasaan yang hadir tiba-tiba tanpa bisa diprediksi sehingga kita terlena dan tidak ada persiapan untuk kemungkinan terburuk sekalipun.
Entahlah…apakah hal ini hanya aku saja yang mengalami atau ternyata memang banyak wanita lain juga merasakan hal yang sama. Menurutku pribadi, dicintai memang membahagiakan tapi kadang luka yang ditimbulkan ternyata lebih dahsyat dari apa yang ku bayangkan. Jadi mungkin karena alasan itulah aku lebih memilih untuk mencintai saja agar hati ini tidak mengalami rasa sakit yang sama kembali walaupun didalam hatiku yang paling dalam tentunya sangat berharap untuk dicintai TAPI tentu saja tanpa bonus rasa sakit yaaaa…!!! ( Galau deh,hha..)

Memilih untuk mencintai maupun dicintai tentu saja hak setiap manusia, kalau bisa tentu saja semua akan memilih untuk mencintai dan dicintaipada waktu yang bersamaan. Tetapi bila hal tersebut terasa seperti dongeng, janganlah berkecil hati karena siapapun yang mencintai maupun dicintai yang terpenting adalah bagaimana kita mengelola cinta itu sendiri.

Ahirnya aku ingin katakan bahwa,  sesungguhnya untaian kata cinta yang aku tumpahkan panjang lebar melalui tulisan ini bahwa, kita harus membedakan antara cinta dan hasrat. karena cinta sejatinya merupakan proses pendewasaan hubungan yang dapat mengantarkan kita pada nilai-nilai etika dalam Islam menuju ridho Allah SWT.

Penulis :Nurhidayahtunnisa
Siswa SMA NEGERI 9 SINJAI

*Tulisan tanggung jawab penuh penulis

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *