Tertindas Demi Kata Pantas

  • Bagikan
Dias Erlangga

 

 

OPINI, exposetimur.com – Waktu, menjelma bagai desakan pilu dan isak tangis yang sesak di ulu. dipukuli pekerjaan dan runitias harian setiap saat, seperti jengah yang sudah menjadi ingatan langkah kaki melangkah. tak terpelintir dan terus menapak sesuai irama hari yang mengajari untuk melakukan rutinitas paling membosankan. menjadi budak waktu dan menindas kebahagiaan demi sebuah kata pantas dan tak dilihat sebelah mata. manusia berubah layaknya menjadi hewan yang rela untuk rantai. yang siap setiap saat untuk mengabdi kepada mereka, atau pada pemerintah atau pada apapun demi selembar rupiah yang telah dijanjikan.

Kita hidup di zaman peradaban. negara-negara memiliki sistem kerja yang beragam. meminta manusia menjadi budak realita sebab kehidupan terus menerus mengalami perubahan, sedangkan mereka yang tak berlandaskan keteguhan dan pekerjaan akan diterpa badai kemelaratan. bukannya di bantu untuk memakmurkan malah semakin tersungkur dalam kesengsaraan, terlebih lagi dalam media sosial ada hujat sana-sini sebab pada tangan-tangan mereka telah hidup seribu mulut tanpa lidah. semakin hari, manusia harus mau mengelurakan keringat, atau pergi mencari penghidupan lain selain di tempat ini.

Mereka yang menjadi budak waktu dan dicambuk pesanan. mereka yang menjadi budak uang dan dicambuk setoran. seperti lukisan wajah-wajah negri yang setiap hari terlihat. Terkadang lupa waktu, keluarga bahkan diri sendiri. kebahagiaan ialah ketika menerima uang, pulang adalah menepi dari kesibukan untuk sementara. dan kita adalah insan yang bertarung, bersusah payah, bekerja demi sebuah kata pantas. sebab mereka bisa beli apa-apa, dan kita tak ingin ketinggalan katanya.

 

Sudah cukup kita menjadi seorang manusia yang terbunuh waktu senggangnya. Sudah cukup kita dipermainkan kesibukan yang tiada hentinya. sesekali aku, kamu dan kita juga perlu pergi, berkelana dan juga berkenalan dengan beberapa ragam raga dan rupa yang tak melulu itu-itu saja. uang adalah obat dari segala penyakit (katanya) tapi darinya pula penyakit melekat dan tak mau berpindah. sesekali tenggelamkan diri ke dalam palung bahagia. kita yang tertindas, kita yang terpenjara, kita yang mati-matian berupaya. memang harus segera berhenti berkelana. pulanglah, karna orang tua butuh peluk hangat kita, sebab pasangan kita butuh senyuman tanpa lelah, sebab kita rindu arti sebuah kata bebas dan merdeka.

Baca Juga :   Maaf Ibu, Anakmu Berbeda

Penulis : Diaz Erlangga, (Mahasiswa Ekonomi Islam UINAM Angkatan 2017)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: