Antara Tuhan, Alam, dan Manusia

  • Bagikan
Diaz Erlangga, (Alumni Fak Ekonomi Islam UINAM Angkatan 2017)
Diaz Erlangga, (Alumni'Fak Ekonomi Islam UINAM Angkatan 2017)

Antara Tuhan, Alam, dan Manusia

Penulis : Diaz Erlangga, (Mahasiswa Ekonomi Islam UINAM Angkatan 2017)

Opini – Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat: “sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah dimuka bumi”. Malaikat berkata: “mengapa engkau akan menjadikan (khalifah) dimuka bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji engkau dan menyucikan engkau. Tuhan berfirman: “sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui” (QS Al Baqarah: 30).

Kutipan ayat di atas adalah salah satu percakapan Tuhan dengan Malaikat pada saat langkah awal proses penciptaan manusia, dan protes malaikat kepada Tuhan dengan beberapa alasan mendasar tentang ketakutan-ketakutannya yang nantinya akan dilakukan oleh manusia dimuka bumi. Dan di kalimat terakhir dari ayat di atas menyebutkan bahwa “Tuhan mengetahui apa-apa yang kamu tidak ketahui”. Artinya ialah bahwa kebebasan atas kehendaknya pada makhluk ciptaannya menunjukan kekuasaannya untuk melakukan segala sesuatu. Dan juga tuhan memiliki rencana tersendiri atas mahkluk ciptaannya. “Tidak akan Aku ciptakan manusia selain untuk menyembah kepedaku”. Bukan berarti Tuhan membutuhkan manusia untuk di sembah, justru sebaliknya manusialah yang membutuhkan Tuhan sebagai penyembahannya. Penyembahan atau penghambaan manusia kepada tuhan merupakan representasi bahwasanya manusia harus patuh dan taat kepada perintah tuhan ketika ia di turunkan ke muka bumi. Namun dengan itu tuhan juga memberikan kebebasan dan kekuasaan kepada manusia untuk di jadikan sebagai khalifah/pemimpin di muka bumi. Tetapi dari kekuasaan itulah terkadang menjadikan manusia menjadikannya makhluk yang sombong, rakus, serakah, bodoh dan sangat berbahaya.

Kekhawatiran malaikat dahulu terhadap manusia pada saat proses penciptaan pertama manusia saat ini sudah sangat jelas terlihat, bahwa manusia lebih cenderung menggunakan nafsunya untuk menguasai alam demi kepentingan pribadinya dan sangat merugikan bagi masyarakat secara umum. Ia menggunakan pengetahuannya untuk memangsa manusia-manusia lain, begitu kata T. Hobbes. Saling mendominasi satu sama lain, saling mengeksploitasi satu sama lain, yang akibat buruknya adalah lingkungan dan alam akan mengalami kerusakan. Terjadi penambangan liar, operasi tambang, peperangan yang menggunakan senjata pemusnah massal, inilah yang terjadi. Seakan-akan manusia ingin menang sendiri, ingin menguasai sendiri atas hak privat individunya untuk mengambil keuntungan yang merugikan masyarakat banyak. Tanpa sadar akibat dari kerusakan alam itu menimbulkan malapetaka bagi manusia, Longsor, Banjir, Gempa, Tsunami, Pencemaran yang terdiri dari Polusi udara, yang menyebabkan sesak nafas, Polusi tanah yang menyebabkan lahan pertanian menjadi rusak, Polusi air, menyebabkan air tidak bersih dan tidak sehat bergizi dan bahkan masih banyak lagi bencana-bencana yang sering menimpa manusia pada hari ini.

Terkait dengan hal ini, Mengutip kata Ali Sariyati, bahwa cakupan kehidupan manusia di dunia ini, harus didasari dengan tiga hal pokok, yakni; Tuhan, Alam dan Manusia. Ketiga hal tersebut memiliki keterikatan universal, jika saja tuhan di lupakan dalam segala sistem produksi, maka alam dan manusia tak akan lagi bersahabat. Alam memang memberikan manfaat yang besar kepada umat manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Namun manusia menjadi lalai sendiri, serakah dan kejam menguras dan mengeksploitasi alam demi meraup keuntungan materinya tanpa batas. Karl Marx dengan tegas telah mengatakan penguasaan tersebut menciptakan penindasan struktur didalam masyarakat, yang kaya (borjuis) akan semakin berkuasa, dan yang miskin (proletar) akan semakin di kuasai. Dengan adanya kepemilikan alat-alat produksi yang di kuasai oleh kelompok kelas berjuis, untuk memperkerjakan manusia dalam mengelola alam dan lingkungan tanpa batas dan tanpa mempertmbangkan kerusakan lingkungan sebagai dampaknya. Bahkan spesis maupun habitat binatang menjadi punah juga merupakan akibat kepentingan manusia yang ingin mendapatkan keuntungan ekonomi.

Baca Juga :   Agama dan Pluralisme

Alam yang terdiri dari unsur air, tanah, udara dan api merupakan kebutuhan vital manusia (Susilo, 2012:153) untuk memenuhi kebutuhan manusia selama berada di dunia. Hal tersebut terkadang terjadi suatu kesenjangan sosial ekonomi jika suatu keadaan kebutuhan tersebut tidak seimbang di bidang sosial dan ekonomi dalam kehidupan masyarakat. Artinya ada jurang pemisah yang lebar antara si kaya dan si miskin, akibat tidak meratanya pembangunan. Apabila jurang pemisah ini tidak segera ditanggulangi dan menimbulkan kecemburuan masyarakat sosial yang dapat menyebabkan keresahan dalam massyarakat sebagai salah satunya kriminalitas yang dapat merugikan masyarakat secara umum (ciptadestiara).

Begitupun dalam konstitusi UUD 1945 tercantum dalam pasal 33 ayat 1,2, dan 3, sebagai sebuah aturan yang dilaksanakan oleh setiap negara untuk kesejahteraan masyarakat dalam pengelolaan sumber daya alam untuk menunjang kebutuhan masyarakat indonesia. Namun dengan hal tersebut jika aturan tersebut tidak di laksanakan dengan sebaik-baiknya, maka kemiskinan akan menghantui seluruh masyarakat indonesia pada umumnya, yang akibatnya dari kemiskinan tersebut akan melahirkan tindakan-tindakan kriminalitas yang terjadi dalam kehidupan masyarakat, Pembunuhan, perampokan, pencurian dan lain-lain. Hal ini jika tidak dapat di tindaklanjuti sebagaimana yang telah di tetapkan, maka dampak buruknya adalah kenyamanan dan ketentraman masyarakat secara umum dapat terganggu dengan kondisi tersebut.

Dalam islam sendiri, kepedulian terhadap lingkungan tidak hanya berkisar antara alam dan manusia tetapi lebih dalam lagi sebagaimana firman Allah SWT dalam surat-Nya Al-Baqarah ayat 204-205; “diantara manusia ada yang menganut paham hedonisme, padahal Allah tahu itu bertentangan dengan nuraninya. Mereka adalah berhati kejam, disaat mengelola lingkungan, mereka mengeksploitir bahkan merusak lingkungan. Padahal Allah tidak suka terhadap para perusak lingkungan” (2009: 67). Alam semesta ini diciptakan Allah SWT untuk manusia dan menjadi pelajaran baginya. Manusia berhak mengelola dan memanfaatkannya guna memenuhi kebutuhan dan untuk mencapai tujuan hidupnya. Tetapi sebaiknya, manusia dilarang meng-eksploitasi dan merusaknya sehingga segala akibatnya akan diderita oleh manusia. Agar manusia dapat memperoleh pelajaran, maka alam juga dilengkapi dengan ukuran atau qadar dan hukum-hukum tertentu yang disebut sunnatullah. Sunnatullah pada alam semesta bersifat tetap, dapat diamati dan dipelajari oleh manusia.

Oleh karena itu jika manusia secara serius mau memperhatikan alam dengan mengikuti petunjuk kitab suci dan nabinya serta mendayagunakan secara maksimal akal budinya maka ia akan dapat memperkirakan perjalanan alam dan selanjutnya menguasainya secara proporsional. Dari sinilah sejarah hidup manusia dan masa depannya diuji Apakah dengan diturunkannya risalah universal itu manusia dengan sadar mengikutinya yang berarti muslim atau menempuh jalan lain yang berarti kafir atau munafiq.

Pada prinsipnnya persahabatan manusia dan alam, tentu harus di jadikan sebuah hukum bagi kehidupan. Dengan begitu kesadaran akan pentingnya alam bagi kehidupan masyarakat manusia di muka bumi ini. Kesakralan tentang kekuatan supranatural terhadap alam yang kita anggap akan memiliki manfaat positif bagi kehidupan manusia dalam menjaga dan merawat alam sebagai satu satunya ciptaan tuhan yang patut di jaga dari kerusakan.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: