Opini  

Tambang VS Masyarakat Luwu Timur

Ilustrasi tambang

OPINI REDAKSI, | Tiap pemerintah Daerah mengharapkan adanya investasi dari investor luar daerah/lokal bahkan investor asing yang mau melirik suatu daerah di nusantara ini, Mungkin Luwu Timur juga demikian.

Dari segala bentuk dan jenis perizinan yang keluarkan oleh pemerintah daerah,tentunya akan di percepat dan prosedurnya tidak membutuhkan waktu lama, itu pasti jika sesuai aturan perundangan undangan saat ini.

Akan tetapi, prinsipnya investor sebagai pemilik modal, selalu dan mengharapkan kepastian hukum”, rasa aman “dalam bentuk apapun itu. Investor sebagai pemilik perusahaan dalam menjalankan kegiatan proses produksi dan atau exploitasi lahan tambang, sudah di sepakati dalam legal yuridis formal oleh pemerintah yang punya kewenangan dan hal tersebut .yang wajib dimiliki oleh investor.

Konsesi pertambangan yang dimiliki oleh investor atau perusahaan tentu dan pasti ,karena sudah melewati tahap prosedur dari tingkat pemerintah paling bawah hingga pemerintah pusat.

Negeri batara guru ini, salah satu kabupaten penghasil devisa negara dan daerah,dalam pengelolaan tambang nikel khusus Kecamatan Malili ,desa harapan (lampia) arah selatan kabupaten menuju Sulawesi Tenggara, termasuk memiliki lokasi/konsensi pertambangan oleh dua investor perusahaan lokal.

Pemahaman “kebebasan” berusaha pembukaan lahan hutan sebagai perkebunan, tentunya punya masalah tersendiri. Status hutan tidak diketahui oleh siapa pun itu, akan bertambah terus menerus sebaran luasnya secara signifikan. Status hutan tersebut dapat berupa hutan produksi terbatas atau hutan hak yang telah dimiliki secara legal yuridis formal wajib dan harus dilindungi sesuai peraturan perundangan undangan. Kegiatan exploitasi hutan dan atau exploitasi pertambangan secara bertahap akan jadi kendala ,bilamana hal tersebut terjadi terus menerus tanpa adanya edukasi persuasif dan prepentip sebaik mungkin dari pemerintah atau pemangku kepentingan di negeri ini, dan tentu jika di biarkan, akan menjadi masalah dikemudian hari, ,baik pihak investor maupun masyarakat.

Baca Juga :   Nilai Nilai Budaya Lokal dan Agama

Betapa indah dan eloknya jika sikap beretika dalam kehidupan sosial kemasyarakatan terus terjalin dan terjaga dalam hidup ini, karena dari sana akan terjalin interaksi keakraban yang harmonis. Negeri ini punya Falsafah hidup dalam Bernegara ,yang  tersurat dalam FRASA,”WANNA MAPPATUO NAEWA I ALENA” Negeri menghidupi rakyat dan mengukuhkan dirinya” Inilah negeri “batara guru “yang akan maju ,sejahtera,mandiri serta aman sentosa dengan berlandaskan etika, agama dan budaya. Dapatkah tercapai ?…..masih dalam lintasan bayang-bayang….

Bersambung….

Oleh : Redaksi/Nic

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *