Opini  

Memaknai Pendidikan Sebagai Jalan Terang

OPINIhttp://Exposetimur.com  Mengulas tentang pentingnya ilmu pengetahuan serta kesadaran untuk terus mengangkat diri dari lubang kebodohan merupakan aktivitas yang sudah lama di tampilkan dari zaman mesir kuno sampai periode modernisasi. Sekaitan dengan itu korespondensi antara peradaban yang beroleh implikasi dari pengetahuan sudah menjadi keharusan, sebab peradaban yang maju selalu di hidupi dengan nafas sejuk ilmu pengetahuannya.

Coba kita berangkat untuk melakukan studi literatur sejarah pendidikan maka yang akan kita temui selain dari mesir kuno adalah kisah yang merentang dari pendidikan zaman china dan india kuno dengan pendidik seperti confucious, di yunani kuno dengan pemuda yang pikirannya selalu di nutrisi ilmu oleh socrates, zaman pertegahan hingga munculnya zaman renaissance yang di modernisasi dengan rombongan pencerah seperti bacon, rousseu dan renatus cartesius, tak lebih lagi di era keemasan islam pada kisaran abad ke 12 dengan pemimpin seperti al-ma’mun dan harun ar-rasyid dengan menyampaikan doktrin tentang “gengsilah ketika rumah dan lemarimu tidak di sesaki oleh buku” tentu upaya-upaya tersebut tidak terlepas dari pandangan mengenai pentingnya edukasi serta pengetahuan.

Paparan diatas sudah menjadi harta kekayaan dengan bekal referensi dan kajian yang sangat komprehensif. Dengan ini pendidikan di rasa perlu untuk hadir di dalam sendi kehidupani ini, seperti descartes yang di kenal sebagai bapak filsafat modern yang memulai aktivitas belajarnya sejak berumur 8 tahun serta di kuatkan dengan dorongan dan didikan keluarga, di kirim ke sekolah-sekolah berkualitas sehingga jejaknya banyak memberikan panutan bagi pemikir-pemikir modern sampai era kontemporer.

Hal yang hampir sama muncul dari Motivasi pendidikan mental yang dimulai dari rumah dan pergaulan keluarga merupakan landasan yang kokoh bagi orang yahudi kuno dengan memandang anak sebagai hadiah dari tuhan, dengan itu mereka mendidik anak-anaknya untuk mengenal misi agama yang menjadi tanggung jawab anak dan orang tua untuk kesejahteraan mereka. olehnya mereka tidak pernah mengabaikan pendidikan di rumah bahkan merasa perlu untuk mendirikan sekolah.

Sudah tentu menjadi pondasi yang kuat untuk bangunan pendidikan dini serta cukup menstimulus dalam melangkah demi selangkah ke kehidupan sosial, politik dan praktik moralitas individu mereka.

Baca Juga :   3 Tahun Tak Akan Kembali

Beralih ke tanggung jawab negara sebagai organisasi sosial raksasa yang punya kewajiban dalam penyerapan metode pengajaran dan menyonsong semangat mengajar yang dimana para guru harus terus mengelaborasi demi kebaruan pendidikan, sebagaimana dalam konteks keindonesiaan seperti kewajiban untuk menjalankan amanat UUD 1945 yang berbunyi “mencerdaskan kehidupan bangsa” amanat yang kental sebagai arus utama semangat pencerdasan malah meleset jauh dari visi besar itu, juga stagnan sebagai perintah pencerdasan dan pudarnya substansi seperti dalih akulturasi paham-paham yang sifatnya di anggap terlalu liberal seperti ilmu-ilmu sosial dan politik marx yang awalnya hanya sistem politik komunisnya yang di hapus dari keikutsertaan dalam berkontestasi politik sebagaimana yang di atur dalam konstitusi negara, jelasnya masalah tersebut di khawatirkan hadir karena kegagapan perspektif dalam menilai apa yang sebenarnya harus di tanam dan apa yang harus di cabut.

Masalah lain juga bermunculan seperti pendidikan yang dinilai rendah dan mulai merosot, contoh dalam skala pendidikan keluarga yang sudah mulai ambruk, dalam konteks keindonesiaan pendidikan keluarga yang sewajibnya menjadi pijakan yang kuat malah cenderung menunjukkan sikap regresi dalam peran sebagai sentral “binaan moralitas anak” selain pencarian solusi terhadap banyak nya anak usia dini yang terbatas biaya untuk mencicipi pendidikan di sekolah-sekolah, wajah indonesia saat ini juga semakin suram dengan dengan fenomena sosial yaitu “pencabulan tehadap anak” yang banyak terjadi dalam lingkungan keluarga ataupun institusi pendidikan, sekaligus menjadi ancaman yang sangat serius bagi generasi muda dan menjadi tumor ganas bagi proyeksi masa depan bangsa dan masyarakat indonesia saat ini.

 

 

Penulis : AGUS SALIM (Kabid hikmah politik dan kebijakan publik PC IMM KAB. BULUKUMBA 2021-2022)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *